Selasa, 10 Agustus 2010

Kampung Naga



Kampung Naga merupakan salah satu dari kampung yang masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat lain yang lebih modern.

Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern.

Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari pantangan bagi masyarakat Kampung Naga untuk membicarakan berbagai hal tentang tradisi mereka. Selain pada hari pantangan tersebut, kita bisa berinteraksi dengan mereka dengan lebih leluasa.

Kampung Naga secara administratif terletak di kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Terletak persis di samping jalan raya Tasikmalaya-Garut dari rute Tasikmalaya-Bandung, membuat kampung ini mudah dicapai.

Untuk menuju ke sini bisa ditempuh dari 2 arah, dari Garut atau dari Tasikmalaya, karena kampung ini terletak di “tengah-tengah” perbatasan kedua kota, sekitar 30 km dari Tasikmalaya dan 26 km dari Garut.

Dari Jakarta, saya menuju Garut dengan menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebak Bulus dengan ongkos 35 ribu rupiah. Bila naik yang jurusan Tasikmalaya, ongkosnya 40 ribu rupiah.

Pertimbangan saya, dari Kampung Naga, saya akan meneruskan perjalanan ke Tasikmalaya, sehingga bila berangkat dari Garut lebih mangkus. Apalagi entah kenapa bus-bus jurusan Tasikmalaya yang biasanya pating tlecek di Terminal Lebak Bulus, saat itu tidak ada sama sekali.

Dari Terminal Guntur, Garut, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Elf (colt diesel) tujuan Garut-Tasikmalaya dengan ongkos 20 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 1-2 jam tergantung kecepatan Elf (sering ngetem menunggu penumpang atau tidak). Ongkos dan waktu tempuh juga hampir sama jika menempuh dari Tasikmalaya.

Jika dari Bandung, gunakan minibus kecil jurusan Bandung-Tasikmalaya. Namun tanyakan dulu apakah bus tersebut melewati Kampung Naga atau tidak.

Jalan berkelok menyusuri bukit adalah jalur yang kami lewati. Saking penuhnya Elf, beberapa penumpang bahkan sampai duduk di atas atap Elf. Saya ndak bisa membayangkan gimana rasanya berada di atap ketika Elf menukik dan berkelok menyusuri tepian jurang.
Turun dari Elf, saya disambut oleh sebuah lapangan parkir beraspal dan gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Naga”, serta sebuah tugu Kujang, senjata tradisional Sunda. Di seputaran tempat parkir sudah terdapat kios-kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya yang dibuat oleh penduduk Kampung Naga dan warung-warung makan.

Untuk menuju ke Kampung Naga, cukup sulit. Saya harus menuruni anak tangga dengan sudut yang curam, mencapai sekitar 45°. Walau anak tangga ini terbuat dari semen yang cukup bagus, bila tidak berhati-hati kita bisa saja terjatuh.

Apalagi tidak ada pagar yang bisa dipakai untuk pegangan, membuat pengunjung harus lebih berhati-hati.

Beberapa penduduk Kampung Naga tampak sedang mendaki naik untuk keluar dari Kampung Naga dan melakukan aktivitas di luar. Seorang bapak yang saya sapa bahkan sedang memanggul batu kali untuk dijual.

Separo perjalanan, dari jauh sudah terlihat deretan rumah berwarna putih beratap hitam menyembul dari kaki bukit dan sawah. Sungai Ciwulan dengan air deras berwarna kecoklatan yang mata airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut, mengapit desa.

Masyarakat Kampung Naga memang menggantungkan hidup dari pertanian dan sungai. Saya jadi teringat sejarah bahwa peradaban manusia lahir di lembah sungai.

Sebuah jalan semen nampak jelas menjadi jalan utama menuju gerbang masuk Kampung Naga.

Masyarakat Kampung Naga yang berjumlah sekitar 100 kepala keluarga ini begitu kuat menaati aturan dan adat istiadat yang berlaku. Aturan ini mencakup banyak hal, mulai dari waktu dan tata cara kehidupan hingga pola arsitektur serta kebudayaan.

Mereka sangat mempercayai hal-hal mistis sehingga ada lokasi-lokasi yang dikeramatkan, antara lain hutan adat yang terletak di sebelah barat di mana di sana terdapat makam para leluhur mereka.

Banyak versi yang menceritakan sejarah Kampung Naga, namun tidak ada catatan resmi karena dokumen-dokumen sejarah kampung ini musnah ketika serangan pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.

Namun versi yang populer adalah pada masa kewalian Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang muridnya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah barat hingga mencapai daerah Neglasari (Kampung Naga sekarang).

Awalnya penduduk di sana memeluk agama Hindu yang berasal dari kerajaan Pajajaran, namun akhirnya memeluk agama Islam yang dibawa oleh Singaparana. Sembah Dalem Singaparana inilah yang kemudian menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.

Nama “Kampung Naga” sendiri diduga berasal dari kata “Kampung Nagawi”, yang kemudian lebih sering disebut dengan “Kampung Naga”.

Meski semua penduduk beragama Islam, namun tata cara peribadatan mereka berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Misalnya, mereka melakukan sholat hanya pada hari Jumat. Juga beberapa hari besar agama Islam juga mereka terapkan yang diberi nama Hajat Sasih. Pengaruh Hindu masih kuat terasa.

Rumah-rumah panggung berderet rapi memanjang dari barat ke timur. Setiap rumah menghadap ke utara atau selatan. Setiap rumah harus terbuat dari kayu, dengan dinding dari anyaman bambu, beratap ijuk atau daun nipah, dan dikapur dengan warna putih.

Perabotan rumah tangga semacam kursi dan meja tidak diperkenankan, apalagi peralatan elektronik seperti televisi, radio dan sebagainya. Bahkan mereka menolak pemasangan listrik di kampung mereka.

Di depan rumah biasanya terdapat semacam teras atau serambi kecil yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan sesama penduduk. Ketika saya datang, saya melihat sekelompok warga sedang memilah-milah semacam tanaman akar (herbal) yang diambil dari kebun.

Saya tidak mengetahui secara pasti akar apa yang mereka ambil, karena mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang saya sama sekali tidak mengerti. Saya hanya mengira-ira saja apa arti dari jawaban mereka ketika saya tanya.

Tanah liat dengan batu-batu yang disusun sedemikian rupa menjadi jalan dan tangga memberikan pengalaman menyusuri kampung menjadi lebih menarik. Menyelip di antara gang-gang sempit sembari menikmati kesunyian yang ditemani suara tongeret begitu menenangkan.

Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan para wisatawan, sehingga mereka cenderung cuek dan tetap menjalani kehidupan seperti biasa ketika ada wisatawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Menginap di kampung ini pun bisa, namun kita harus siap dengan segala konsekuensi, misalnya ketiadaan perabotan dan listrik yang biasanya menjadi keseharian kita plus kita harus mematuhi aturan dan pantangan yang berlaku.

Di setiap rumah tidak terdapat kamar mandi. Aktivitas MCK dilakukan di pemandian umum yang terdapat di bagian depan kampung yang dekat dengan sungai. Terdapat kolam-kolam di sekitar pemandian yang digunakan untuk beternak ikan. Kandang-kandang kambing dan sapi juga berada di depan sehingga tidak mengganggu perkampungan.

Di bagian paling atas terdapat sebuah lapangan dan masjid agung. Terdapat sebuah bedug unik yang terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi tengahnya.

Selain dari pertanian, penduduk Kampung Naga juga membuat kerajinan anyam-anyaman dari akar-akar dan bambu untuk dijual. Banyak sekali produknya, antara lain tas, topi, gelang-gelang, kalung, hingga sandal.

Suvenir khas ini dijual di beberapa rumah dan bisa ditemukan di kios-kios suvenir di pelataran parkir. Saya tertarik dengan sebuah tas anyam-anyaman dari akar. Saya pun membelinya dengan harga 35 ribu rupiah di sebuah kios di samping masjid. Dengan membeli suvenir ini saya berharap bisa membantu ekonomi masyarakat lokal.

Di beberapa sudut saya melihat anak-anak sedang bermain dengan riang dengan menggunakan bola. Sementara di sudut lain saya melihat beberapa anak sedang belajar di teras rumah.

Karena tata letak rumah yang berundak di kaki lembah, saya sering menemukan ayam-ayam peliharaan penduduk sedang asyik nongkrong di atap rumah. Kandang-kandang ayam biasanya diletakkan di bagian bawah rumah.

Puas menikmati suasana, saya pun meninggalkan kampung ini. Saya dengan susah payah dan terengah-engah melahap tanjakan curam.

Penduduk yang dengan santai meniti sengked (anak tangga) terlihat senyum-senyum melihat tampang saya yang kelelahan ketika beristirahat sejenak.

Foto-foto lain bisa dilihat di halaman Flickr saya.

Kampung Naga



Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

Kampung Naga merupakan kampung yang sangat unik, dengan keteguhannya dalam memegang adat istiadat para leluhurnya. Memasuki Kampung Naga kita akan disuguhi berbagai macam pantangan yang sama sekali tidak boleh di langgar, konon bila kita melanggar pantangannya, di kemudian hari kita akan mendapatkan suatu musibah yang tidak kita sangka-sangka.

Selain sangat unik Kampung Naga juga terkenal dengan keramahan khas Sundanya dalam menerima tamu atau pendatang yang kebetulan singgah di kampnung ini. Penduduk Kampung Naga sumuanya mengaku beragama Islam, akan tetapi sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.
Jika kita berkesempatan singgah ke Kampnung Naga, kita akan disuguhi bentuk bangunan atau rumah khas Kampung Naga yang berbentuk panggung, semua bahan-bahannyapun harus terbuat dari bambu dan kayu, sementara atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk atau alang-alang. Lantai rumah juga harus terbuat dari bambu atau papan kayu, tidak boleh di cat kecuali menggunakan kapur.

Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga memiliki pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan alat musik sejenis goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Namun demikian, warga Kampung Naga diperbolehkan menyaksikan pertunjukan Wayang atau kesenian lainnya asal berada diluar Kampung Naga.

Seperti juga adat masyarakat Baduy Banten, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang atau peralatan modern masuk ke Kampung Naga. Sehingga jika kita memasuki areal Kampung Naga kita tidak akan mendengar suara radio yang mengalunkan musik-musik merdu, namun kita pasti akan mendengar suara-suara serangga dan katak tatkala matahari akan terbenam ke peraduaannya.

Untuk buah tangan, anda tak perlu khawatir, karena disepanjang jalan menuju Kampung Naga banyak toko-toko yang menyediakan berbagai macam souvenir hasil kerajinan tangan warga Kampung Naga dan warga Tasikmalaya pada umumnya dengan harga yang sangat murah dan dengan pilihah yang beraneka ragam.

Di luar itu semua, Kampung Naga pasti akan menyuguhkan nuansa lain dari Wisata Budaya manapun, karena masing-masing tempat atau lokasi wisata yang ada di Nusantara tercinta ini memilliki karakter yang berbeda dalam menyajikan keunikannya, maka tak ada salahnya jika anda bersama keluarga anda bisa sesekali mengunjungi Kampung Naga untuk sekedar mencari tahu ada apa sih di Kampung Naga.

Penulis: AMGD
Lokasi: Neglasari,Salawu,Tasikmalaya
Fotografer:AMGD

Singaparna



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Kecamatan Singaparna
Peta lokasi Kecamatan Singaparna
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Tasikmalaya
Camat
Luas - km²
Jumlah penduduk -
- Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan -

Singaparna adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.

Kecamatan ini merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya.

Kecamatan Singaparna berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Dalam sejarah perkembangannya kecamatan Singaparna pernah menjadi Ibu Kota (Pusat Pemerintahan) Kewedanaan, yang meliputi Kecamatan Singaparna, Leuwisari dan Kecamatan Cigalontang sampai dengan Lembaga Kewedanaan dihapus yaitu pada tahun 2001, dan pada tahun 2001 Kecamatan Singaparna dipecah menjadi 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Singaparna. Sukarame dan kecamatan Mangunreja.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Letak Geografis
* 2 Batas Wilayah
* 3 Penggunaan Lahan
* 4 Jumlah Penduduk
* 5 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
* 6 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
* 7 Sumber

[sunting] Letak Geografis

Kecamatan Singaparna berada pada 108° - 109° dan 60° - 70° BT dengan ketinggian 443.m di atas permukaan laut dan curah hujan rata-rata 1310 mm/tahun. Luas wilayah Kecamatan Singaparna = 2.178,837 Ha, terbagi menjadi 10 wilayah Pemerintahan dengan tataguna tanah Darat : 1.140,349 Ha dan sawah 1.038,245 Ha.
[sunting] Batas Wilayah
Utara Kecamatan Leuwisari dan Kecamatan Padakembang
Selatan Kecamatan Sukarame dan Kecamatan Mangunreja
Barat Kecamatan Cigalontang
Timur Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya
[sunting] Penggunaan Lahan

* Pemukiman : 505,652 Ha
* Ladang : 234,245 Ha
* Sawah : 1.038,188 Ha
* Kolam : 184.671 Ha
* Lapang : 17,450 Ha
* T. N. : 27,397 Ha
* Jalan : 26,277 Ha
* Lain-lain : 144,957 Ha.

[sunting] Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk Kecamatan Singaparna sampai dengan bulan Mei 2002 mencapai 56.445 jiwa terdiri dari Laki-laki : 27.856 jiwa, Perempuan : 28.592 jiwa dan jumlah Kepala Keluarga : 13.145 KK.
[sunting] Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

* SD / MI : 10.967
* SLTP / MTS : 4.929
* SLTA / MA : 3.554
* PERG.TINGGI : 996

[sunting] Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Kultur Budaya Penduduk adalah:

* Petani : 5.5478 orang
* Pedagang : 4.206 orang
* PNS/TNI/POLRI : 2.473 orang
* Pensiunan : 283 orang
* Jasa : 10.016 orang
* Lain-lain : 8.404 orang.

[sunting] Sumber

* (id) http://www.tasikmalaya.go.id/
* (id) http://www.tasikmalaya.go.id/kecsingaparna.php

Cigalontang



Letak Geografis
Kecamatan Cigalontang berada pada lintasan batas dengan Kabupaten Garut, tinggi tempat dari permukaan laut 600 m, curah hujan rata-rata pertahun 384 mm dan keadaan suhu rata-rata 27°C yang mempunyai jarak 27 Km dari Kota Tasikmalaya ke arah barat dan 120 Km ke lbukota Propinsi Jawa Barat. Dengan luas wilayah 11.913 Ha.


Batas Administrasi
- Sebelah Utara : Kabupaten Garut
- Sebelah Timur : Kecamatan Singaparna
- Sebelah Selatan : Kecamatan Salawu
- Sebelah Barat : Kabupaten Garut

Penggunaan Lahan
Tanah sawah: 3049 Ha, Tanah darat: 8800 Ha, Tanah lainnya: 64 Ha.

Jumlah Desa
Kecamatan Cigalontang terdiri dari 16 desa yaitu : Desa Cigalontang, Jayapura, Pusparaja, Puspamukti, Nangtang, Tanjungkarang, Kersamaju, Sirnagalih, Parentas, Cidugaleun, Sirnaraja, Sirnaputra, Lengkongjaya, Tenjonegara, Nanggerang dan Sukamanah.

Jumlah penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Cigalontang sampai dengan bulan April 2010 sebanyak :
- Laki-laki : 35.499 jiwa
- Perempuan : 34.733 jiwa
- Jumiah : 70.232 jiwa

Jumlah penduduk Menurut Mata Pencaharian
- Petani Pemilik, Penggarap dan Buruh Tani : 49 %
- Pengrajin dan Buruh Pengrajin : 15 %
- Pedagang/Wiraswasta: 26 %
- PNS/TNI/POLRI dan Pensiunan : 3 %
- Bidang Jasa dan lain-lain : 7 %

Potensi Unggulan
Agribisnis Pertanian terdiri dari :
- Padi
- Cabe
- Teh
- Ikan
- Kambing
- Domba