Minggu, 19 September 2010

wretikandayun



Pendiri Kerajaan Kendan adalah Resiguru Manikmaya yang berasal dari keluarga Salankayana, selatan India. Sebelum tiba dan menetap di Jawa bagian barat, ia pernah mengunjungi sejumlah daerah, seperti Gaudi (Benggala), Mahasin, Sumatera, Ghoh Nusa (Pulau Sapi atau Bali), Syangka, Yawana, dan Cina.

Seperti dikupas sekilas sebelumnya, Manikmaya adalah menantu Suryawarman. Ia menikah dengan Tirtakancana, putri Raja Tarumanagara tersebut. Setelah menikah, ia diberi hadiah berupa daerah bernama Kendan, di sekitar Nagreg, antara Sumedang-Bandung. Di Kendan, Manikmaya diangkat menjadi rajaresi dan dibekali pasukan. Oleh Suryawarman, ia diangkat menjadi raja bawahan Tarumanagara.

Dari Tirtakancana, Manikmaya memeroleh keturunan; salah satu putranya bernama Rajaputera Suralimansakti. Berkat kecakapan ilmu beladirinya, di usia 20 tahun Suraliman dinobatkan menjadi senapati Kendan. Tidak lama setelah itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.

Manikmaya memerintah Kendan selama 32 tahun, antara 536 hingga 568 M. Setelah wafat, Suraliman naik takhta, menggantikan ayahnya. Pengangkatan Suraliman berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji 490 Saka (5 Oktober 568 M). Suraliman menikah dengan putri Raja Bakulapura (Kutai) bernama Dewi Mutyasari. Pernikahan ini bertujuan untuk merekatkan persahabatan kedua negara. Dari Mutyasari, Suraliman memiliki seorang anak lelaki bernama Kandiawan dan seorang anak perempuan bernama Kandiawati.

Kandiawan disebut juga Sang Layuwatang atau Rajaresi Dewaraja. Adapun Kandiawati menikah dengan seorang pedang kaya asal Sumatra, dan ikut bersama sang suami ke Sumatra. Kandiawan menggantikan Suraliman menjadi raja Kendan pada 597 M. Saat itu Kandiawan merupakan penguasa di wilayah Medang Jati (Medang Gana). Maka dari itu, Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.

Langkah pertama yang diambil oleh Kandiawan setelah menjadi raja adalah memindahkan ibu kota dari Kendan ke Medang Jati. Lokasi Medang Jati diperkirakan berada di sekitar daerah Cangkuang, Garut. Dugaan ini berdasarkan atas fakta bahwa Kandiawan merupakan pemeluk Hindu-Wisnu, dan di daerah Cangkuang terdapat sebuah candi bercorak Hindu-Wisnu, Candi Cangkuang. Temuan situs purbakala di daerah Bojong Menje, Cicalengka, Kabupaten Bandung, pun ditafsirkan berkaitan dengan sejarah Kendan.

Kandiawan memiliki lima orang anak laki-laki. Mereka adalah Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandang Greba, dan Wretikandayun. Masing-masing menguasai daerah Kulikuli, Surawulan, Peles Awi (Paleswari), Rawung Langit, dan Menir. Ada kemungkinan, daerah-daerah tersebut terletak di antara Bandung - Garut. Kandiawan memerintah dalam kurun waktu 15 tahun (597-612 M). Setelah lengser, Kandiawan melanjutkan hidupnya sebagai pertapa di Layuwatang, Kuningan.
Berikut adalah raja-raja yang pernah memerintah di Kendan.
1. Manikmaya (536-568 M).
2. Suraliman (568-597).
3. Kandiawan atau Sang Layuwatang atau Rajaresi Dewaraja (597-612 M).

Wretikandayun, anak bungsunya yang menjabat rajaresi di Menir, ditunjuk untuk menjadi raja Kendan. Ia dinobatkan menjadi penguasa Kendan pada usia 21 tahun (612 M). Wretikandayun memindahkan ibukota Kerajaan dari Menir ke kawasan baru, Galuh. Galuh ini diapit oleh dua sungai: Citanduy dan Cimuntur; kini berada di Desa Karang Kamulyan, Cijeungjing, Ciamis. Galuh sendiri berarti “permata” atau “batu mulia”, yang secara kiasan berarti bisa bermakna “gadis”.

Ketika Wretikandayun memerintah Galuh, yang menjadi raja Tarumanagara adalah Kretawarman. Saat itu wilayah Kendan atau Galuh termasuk daerah kekuasaan Tarumanagara. Namun, tatkala Tarumanagara telah berubah menjadi Kerajaan Sunda pada masa Tarusbawa, Kerajaan Kendan pun memerdekakan diri dari Tarumanagara/Sunda. Wretikandayun yang telah berusia lanjut, 78 tahun, menilai bahwa Galuh harus memisahkan diri dari Tarumanagara/Sunda.

Untuk itu, Wretikandayun mengirim utusan ke ibu kota Kerajaan Sunda. Utusan Galuh memberikan surat dari Wretikandayun kepada Tarusbawa yang menyatakan bahwa Galuh hendak menjadi kerajaan yang merdeka. Raja Tarusbawa ternyata cukup bijak: lebih memilih perdamaian dan urusan dalam negeri daripada mempertahankan wilayah yang ingin membebaskan diri. Oleh Wretikandayun, Galuh pun dijadikan kerajaan yang merdeka.

Kepustakaan
Atja dan Edi S. Ekadjati. 1987. Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara I.1: Suntingan Naskah dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tahun 670: Kerajaan Sunda-Galuh Berdiri





Selepas kekuasaan Tarumanegara , wilayah kekuasaan terpecah menjadi dua: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Sungai Citarum menjadi pembatas dua kerajaan yang sesungguhnya masih bersaudara itu.

Berdasarkan peninggalan sejarah (prasasti dan naskah kuno), ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah yang sekarang menjadi kota Ciamis, tepatnya di kota Kawali, Jawa Barat.

Sunda dan Galuh
Seperti sudah diulas, Kerajaan Tarumanegara terdiri dari beberapa kerajaan daerah. Jumlahnya lebih dari 48. Penerus terakhir Kerajaan Tarumanegara bernama RajaTarusbawa berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa.

Pada tahun 669 ia menggantikan kedudukan mertuanya yaitu Linggawarman raja Tarumanagara yang terakhir. Pada tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.

Di sisi lain, ada juga Kerajaan Galuh. Raja Wretikandayun (masih kerabat dari keluarga Kerajaan Tarumanagara) melihat hal itu sebagai kesempatan untuk memisahkan diri. Ia tidak ingin Kerajaan Galuh tunduk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Raja Tarusbawa.

Raja Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Tarumanagara dipecah dua. Permintaan itu cukup keras, karena di belakang kekuatan Kerajaan Galuh, ada kekuatan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah.

Hubungan antara Galuh dan Kalingga sangat erat. Karena putra bungsu Wretikandayun bernama Pangeran Mandiminyak menikah dengan puteri dari Maharani Kerajaan Kalingga, Ratu Shima.

Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Sungai Cipakancilan. Ia memerintah hingga tahun 723. Sebelum wafat, karena putera penerus tahtanya meninggal, ia mengangkat suami dari cucunya.

Sanjaya dan Dua Kerajaan
Putri Tejakancana – nama sang cucu – bersuamikan Rakeyan Jamri. Rakeyan Jamri pun meneruskan tahta. Sebagai raja ia dikenal sebagai Prabu Sanjaya Harisdarma. Di kemudian hari, raja yang juga keturunan dari Raja Galuh Wretikandayun itu terkenal karena mendirikan Dinasti Sanjaya dan pendiri Kerajaan Mataram kuno .

Selain menjadi raja di Kerajaan Sunda, Sanjaya juga harus meneruskan tahta di Kalingga Utara (Bhumi Mataram) mengingat ia berada dalam garis keturunan ratu Kalingga. Itu sebabnya, Sanjaya kemudian menyerahkan Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan anaknya Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.

Selain menikah dengan Tejakancana, Sanjaya dikabarkan memiliki istri lain. Ia menikah dengan Putri Sudiwara, anak dari Dewasinga, Raja Kalingga Selatan (Bhumi Sambara). Dari Sudiwara ini ia memperoleh putra bernama Rakai Panangkaran .

Riwayat Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh kemudian dipenuhi dengan perang saudara. Saling serang karena perebutan kekuasaan beberapa kali terjadi. Dua kerajaan itu sempat disatukan pada tahun 723 – 739 di bawah kekuasaan Tamperan Barmawijaya, tetapi pecah kembali.

Perang besar keturunan Raja Wretikandayun itu akhirnya diselesaikan oleh Raja Resi Demunawan yang berkuasa atas Kerajaan Galunggung dan Kuningan. Dalam perundingan di Kraton Galuh dicapai kesepakatan: Kerajaan Galuh diserahkan kepada Manarah dan Kerajaan Sunda kepada Rakeyan Banga.

Riwayat dua kerajaan yang sebenarnya susah dipisahkan itu berlanjut hingga lebih dari 700 tahun kemudian. Pada periode terakhir saat Raja Wastu Kancana wafat, kerajaan itu diperintah oleh Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Kerajaan Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Kerajaan Galuh).

Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Periode terakhir dua kerajaan itu dikenal juga sebagai periode Kerajaan Pajajaran .

Raja-raja di Kerajaan Sunda-Galuh

669-723 Maharaja Tarusbawa
723-732 Sanjaya Harisdarma
732-739 Tamperan Barmawijaya
739-766 Rakeyan Banga
766-783 Rakeyan Medang Prabu Hulukujang
783-795 Prabu Gilingwesi
795-819 Pucukbumi Darmeswara
819-891 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus

891-895 Prabu Darmaraksa
895-913 Windusakti Prabu Dewageng
913-916 Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi
916-942 Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa
942-954 Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa
954-964 Limbur Kancana
964-973 Prabu Munding Ganawirya
973-989 Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung
989-1012 Prabu Brajawisesa
1012-1019 Prabu Dewa Sanghyang
1019-1030 Prabu Sanghyang Ageng
1030-1042 Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati

1042-1065 Darmaraja
1065-1155 Langlangbumi
1155-1157 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur
1157-1175 Darmakusuma
1175-1297 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu
1297-1303 Ragasuci
1303-1311 Citraganda
1311-1333 Prabu Linggadewata
1333-1340 Prabu Ajiguna Linggawisesa
1340-1350 Prabu Ragamulya Luhurprabawa
1350-1357 Prabu Maharaja Linggabuanawisesa
1357-1371 Prabu Bunisora
1371-1475 Prabu Niskala Wastu Kancana
1475-1482 Prabu Susuktunggal

Pengaruh Galunggung terhadap Sunda



Pengaruh Galunggung terhadap Sunda

Pengaruh Galunggung terhadap perkembangan sejarah sunda tidak terlepas dari adanya upaya Resi Demunawan untuk menyatukan tradisi Sunda dan Galuh melalui perkawinan Manarah, Banga dan keturunan Saunggalah. Pengaruh dari Galunggung tersebut terlihat pula pada proses terbentuknya Perjanjian Galuh. Pasca Resi Demunawan, Galunggung masih tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat. Mengingat sejak pertama diperintah oleh Sempakwaja, Galunggung sudah menjadikan dirinya Negara agama.


Didalam urutan raja Sunda yang ke 25, diurut dari Terusbawa, disebut-sebut Darmasiksa memerintah Sanggalah II. Nama keraton tersebut sama dengan nama Keraton Resi Demunawan di Kuningan, yakni Saunggalah. Pada periode berikutnya berubah menjadi Saunggatang atau Saungwatang, terletak di Mangun reja. Ketiga nama tersebut berarti sama, yakni Rumah Panjang, suatu julukan yang wajar disebutkan pada masa itu untuk sebuah Keraton.

Memang ada penelusuran tentang hubungan Saunggalah I dengan Saunggalah II., bahkan ada yang menafsirkan bahwa Saunggalah II merupakan penerusan dari Saunggalah I, sehingga ada penafsiran bahwa Prabu Darmasiksa adalah masih keturunan dari Resi Demunawan.




Prasasti Geger Hanjuang

Sepeninggal Sri Jayabupati pada tahun 042 M. la digantikan puteranya, Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana (1042 - 1065 M), sering juga disebut Sang Mokteng Winduraja, karena dipusarakan di Winduraja.


Selanjutnya Desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis tersebut diyakini menyimpan misteri kepurbakalaan. Bahkan dengan dimakamkannya Darmaraja Jayamanahen di Winduraja dianggap, pasca Sri Jayabupati atau pada masa Darmaraja, pemerintahan Sunda disinyalir terletak di kawasan timur, tidak di Pakuan. Data lokasi tersebut didukung pula dengan adanya makam Prabu Darmakusuma (1157 - 1175 M), cicitnya. Ia dipusarakan di Winduraja.


Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 - 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri-Janggala Maharaja Jayabuana Ke-sanananta Wikramotunggadewa (1102 - 1104 M) atau Prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari pelarian dari Kediri dalam Babad Galuh.


Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Maharaja Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti prasasti Galunggung karena ditemukan di lereng Gunung Galunggung, Prasasti ini ditemukan di bukit Geger Hanjuang, oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.


Prasasti Geger Hanjuan sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26. Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuno yang cukup terang untuk dibaca. Walau pun hanya tiga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun. Bacaannya baris demi baris sebagai berikut :


tra ba i gune apuy na-

sta gomati sakakala rumata-

k disusu(k) ku batari hyang pun


Prasasti itu bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya: Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (seleai) disusuk oleh Batari Hyang.

Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini diguna-kan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus HUM.


Rumatak oleh penduduk setempat disebut Rumantak adalah bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Han­juang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat kita baca dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Dengan demikian tokoh Batari Hyang pun dapat kita duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu. Ia tentu keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung.


Kerajaan Galunggung

Kerajaan Galunggung telah ada pada Jaman Sempakwaja, putra Wretikandayun, pendiri Galuh (670). Daerah Galunggung diberikan kepada Sempakwaja seiring dengan diangkatnya Amara – Mandiminyak sebagai putra mahkota Galuh. Sempakwaja diberi gelar Resiguru di Galunggung dengan gelar Batara Danghyang Guru. Ia pun membawahi beberapa daerah. Sempakwaja jika diurutkan sirsilahnya iapun merupakan kakek buyut Maranah dari Purbasora, atau kakek Permana Dikusumah (lihat Galuh).


Galunggung dari masa kemasa memainkan peranan yang cukup penting, terutama sebagai pengimbang Galuh. Pada tahun 723 M, Sempakwaja pernah menyerahkan Galunggung beserta daerah bawahannya kepada putranya, Resi Demunawan sebagai bagaian dari pembentukan Saung Galah. Resi Demunawan dikenal pula dengan sebutan Sang Seuweu Karma atau didalam carita Parahyangan dikenal pula dengan sebutan Rahiyang Kuku. Peristiwa ini terkait untuk mengimbangi kekuatan Sanjaya di Galuh.


Resi Demunawan, dianggap paling menentukan pada persitiwa Perjanjian Galuh. Perjanjian ini dapat secara efektif menghentikan perpecahan diantara keturunan Wretikandayun, berkat idenya pula ia menginisiasi perkawinan antara Manarah, Banga dan Keturunan Saunggalah. Hingga pada babak selanjutnya terjadi penggambungan tradisi antara Sunda dan Galuh (LIhat Perjanjian Galuh pada Bab Galuh dan Bab Sunda).


Berdasarkan catatan sejarah Kabupaten Tasikmalaya, Galunggung dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.


Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 M dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Linggawangi, Leuwisari, Tasikmalaya Desa Linggawangi, Leuwisari, Tasikmalaya Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.


Prasasti itu membuktikan bahwa perjanjian Galuh tahun 739 masih tetap dihomiati. Dalam kropak.632 tokoh Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati (sang bijaksana atau sang budiman). Cukup unik karena "pencipta" ajaran tentang kesejahteraan hidup yang harus men­jadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita.


Mengapa Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya beluni dapat dijelaskan secara memuaskan. Mungkin ia berjaga-jaga karena melihat pusat pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh berada di kawasan timur atau mungkin karena sebab lain. Kerajaan Galunggung dapat mempertahankan kehadirannya setelali Galuh dan Pajajaran runtuh. Dalam awal abad ke-18 sisa kerajaan itu masih ada dengan nama Kabupaten Galunggung dan berpusat di daerah Singaparna. Karena alasan historis, penduduk kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singapar­na. Mereka berkukuh menggunakan nama Galunggung.


Dalam tradisi masa silam Galunggung dianggap sebagai sumber ilmu karena sejak didirikannya merupakan kerajaan agama. Batas-batas alas Galunggung menurut fragmen Carita Parahiyangan ialah: Gunung Sawal di sebelah utara, Pelang Datar di sebelah timur dan Ciwulan di sebelah selatan. Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh di Singaparna (berbahasa Sunda berhuruf Arab) dan berasal dari bagian akhir abad ke-19 masili menyebutkan tokoh Sempakwaja di antara generasi pertama Kerajaan Galunggung. la masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan do'a. la sudah didewakan orang.



Tags: sunda
Prev: Tri Tangtu ti Kanekes teh naon ? Ku Engkus Ruswama
Next: Sunda (Kawali)

Sejarah Tasikmalaya



Masa sebelum Islam

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkanPrasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada zaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sezaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sezaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.



Masa kedatangan Islam

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon



Di bawah ini adalah urutan raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon, yang berjumlah 13 orang :
Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Wretikandayun 670-702
2 Rahyang Mandiminyak 702-709
3 Rahyang Bratasenawa 709-716
4 Rahyang Purbasora 716-723 sepupu no. 3
5 Sanjaya Harisdarma 723-724 anak no. 3
6 Adimulya Premana Dikusuma 724-725 cucu no. 4
7 Tamperan Barmawijaya 725-739 anak no. 5
8 Manarah 739-783 anak no. 6
9 Guruminda Sang Minisri 783-799 menantu no. 8
10 Prabhu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan 799-806
11 Sang Walengan 806-813
12 Prabu Linggabumi 813-852
13 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891 ipar no. 12

Catatan: Sanjaya Harisdarma (no. 5) dan Tamperan Barmawijaya (no. 7) sempat berkuasa di Sunda dan Galuh. Penyatukan kembali kedua kerajaan Sunda dan Galuh dilakukan kembali oleh Prabu Gajah Kulon (no. 13).

Daftar raja-raja Sunda Galuh



Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati, yang berjumlah 20 orang :
Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Maharaja Tarusbawa 669-723
2 Sanjaya Harisdarma 723-732 cucu-menantu no. 1
3 Tamperan Barmawijaya 732-739
4 Rakeyan Banga 739-766
5 Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766-783
6 Prabu Gilingwesi 783-795 menantu no. 5
7 Pucukbumi Darmeswara 795-819 menantu no. 6
8 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819-891
9 Prabu Darmaraksa 891-895 adik-ipar no. 8
10 Windusakti Prabu Dewageng 895-913
11 Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi 913-916
12 Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa 916-942 menantu no. 11
13 Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942-954
14 Limbur Kancana 954-964 anak no. 11
15 Prabu Munding Ganawirya 964-973
16 Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973-989
17 Prabu Brajawisesa 989-1012
18 Prabu Dewa Sanghyang 1012-1019
19 Prabu Sanghyang Ageng 1019-1030
20 Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 1030-1042

Catatan: Kecuali Tarusbawa (no. 1), Banga (no. 4), dan Darmeswara (no. 7) yang hanya berkuasa di kawasan sebelah barat Sungai Citarum, raja-raja yang lainnya berkuasa di Sunda dan Galuh.