Pengaruh Galunggung terhadap Sunda
Pengaruh Galunggung terhadap perkembangan sejarah sunda tidak terlepas dari adanya upaya Resi Demunawan untuk menyatukan tradisi Sunda dan Galuh melalui perkawinan Manarah, Banga dan keturunan Saunggalah. Pengaruh dari Galunggung tersebut terlihat pula pada proses terbentuknya Perjanjian Galuh. Pasca Resi Demunawan, Galunggung masih tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat. Mengingat sejak pertama diperintah oleh Sempakwaja, Galunggung sudah menjadikan dirinya Negara agama.
Didalam urutan raja Sunda yang ke 25, diurut dari Terusbawa, disebut-sebut Darmasiksa memerintah Sanggalah II. Nama keraton tersebut sama dengan nama Keraton Resi Demunawan di Kuningan, yakni Saunggalah. Pada periode berikutnya berubah menjadi Saunggatang atau Saungwatang, terletak di Mangun reja. Ketiga nama tersebut berarti sama, yakni Rumah Panjang, suatu julukan yang wajar disebutkan pada masa itu untuk sebuah Keraton.
Memang ada penelusuran tentang hubungan Saunggalah I dengan Saunggalah II., bahkan ada yang menafsirkan bahwa Saunggalah II merupakan penerusan dari Saunggalah I, sehingga ada penafsiran bahwa Prabu Darmasiksa adalah masih keturunan dari Resi Demunawan.
Prasasti Geger Hanjuang
Sepeninggal Sri Jayabupati pada tahun 042 M. la digantikan puteranya, Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana (1042 - 1065 M), sering juga disebut Sang Mokteng Winduraja, karena dipusarakan di Winduraja.
Selanjutnya Desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis tersebut diyakini menyimpan misteri kepurbakalaan. Bahkan dengan dimakamkannya Darmaraja Jayamanahen di Winduraja dianggap, pasca Sri Jayabupati atau pada masa Darmaraja, pemerintahan Sunda disinyalir terletak di kawasan timur, tidak di Pakuan. Data lokasi tersebut didukung pula dengan adanya makam Prabu Darmakusuma (1157 - 1175 M), cicitnya. Ia dipusarakan di Winduraja.
Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 - 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri-Janggala Maharaja Jayabuana Ke-sanananta Wikramotunggadewa (1102 - 1104 M) atau Prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari pelarian dari Kediri dalam Babad Galuh.
Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Maharaja Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti prasasti Galunggung karena ditemukan di lereng Gunung Galunggung, Prasasti ini ditemukan di bukit Geger Hanjuang, oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.
Prasasti Geger Hanjuan sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26. Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuno yang cukup terang untuk dibaca. Walau pun hanya tiga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun. Bacaannya baris demi baris sebagai berikut :
tra ba i gune apuy na-
sta gomati sakakala rumata-
k disusu(k) ku batari hyang pun
Prasasti itu bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya: Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (seleai) disusuk oleh Batari Hyang.
Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini diguna-kan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus HUM.
Rumatak oleh penduduk setempat disebut Rumantak adalah bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Hanjuang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat kita baca dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Dengan demikian tokoh Batari Hyang pun dapat kita duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu. Ia tentu keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung.
Kerajaan Galunggung
Kerajaan Galunggung telah ada pada Jaman Sempakwaja, putra Wretikandayun, pendiri Galuh (670). Daerah Galunggung diberikan kepada Sempakwaja seiring dengan diangkatnya Amara – Mandiminyak sebagai putra mahkota Galuh. Sempakwaja diberi gelar Resiguru di Galunggung dengan gelar Batara Danghyang Guru. Ia pun membawahi beberapa daerah. Sempakwaja jika diurutkan sirsilahnya iapun merupakan kakek buyut Maranah dari Purbasora, atau kakek Permana Dikusumah (lihat Galuh).
Galunggung dari masa kemasa memainkan peranan yang cukup penting, terutama sebagai pengimbang Galuh. Pada tahun 723 M, Sempakwaja pernah menyerahkan Galunggung beserta daerah bawahannya kepada putranya, Resi Demunawan sebagai bagaian dari pembentukan Saung Galah. Resi Demunawan dikenal pula dengan sebutan Sang Seuweu Karma atau didalam carita Parahyangan dikenal pula dengan sebutan Rahiyang Kuku. Peristiwa ini terkait untuk mengimbangi kekuatan Sanjaya di Galuh.
Resi Demunawan, dianggap paling menentukan pada persitiwa Perjanjian Galuh. Perjanjian ini dapat secara efektif menghentikan perpecahan diantara keturunan Wretikandayun, berkat idenya pula ia menginisiasi perkawinan antara Manarah, Banga dan Keturunan Saunggalah. Hingga pada babak selanjutnya terjadi penggambungan tradisi antara Sunda dan Galuh (LIhat Perjanjian Galuh pada Bab Galuh dan Bab Sunda).
Berdasarkan catatan sejarah Kabupaten Tasikmalaya, Galunggung dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.
Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 M dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Linggawangi, Leuwisari, Tasikmalaya Desa Linggawangi, Leuwisari, Tasikmalaya Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.
Prasasti itu membuktikan bahwa perjanjian Galuh tahun 739 masih tetap dihomiati. Dalam kropak.632 tokoh Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati (sang bijaksana atau sang budiman). Cukup unik karena "pencipta" ajaran tentang kesejahteraan hidup yang harus menjadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita.
Mengapa Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya beluni dapat dijelaskan secara memuaskan. Mungkin ia berjaga-jaga karena melihat pusat pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh berada di kawasan timur atau mungkin karena sebab lain. Kerajaan Galunggung dapat mempertahankan kehadirannya setelali Galuh dan Pajajaran runtuh. Dalam awal abad ke-18 sisa kerajaan itu masih ada dengan nama Kabupaten Galunggung dan berpusat di daerah Singaparna. Karena alasan historis, penduduk kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singaparna. Mereka berkukuh menggunakan nama Galunggung.
Dalam tradisi masa silam Galunggung dianggap sebagai sumber ilmu karena sejak didirikannya merupakan kerajaan agama. Batas-batas alas Galunggung menurut fragmen Carita Parahiyangan ialah: Gunung Sawal di sebelah utara, Pelang Datar di sebelah timur dan Ciwulan di sebelah selatan. Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh di Singaparna (berbahasa Sunda berhuruf Arab) dan berasal dari bagian akhir abad ke-19 masili menyebutkan tokoh Sempakwaja di antara generasi pertama Kerajaan Galunggung. la masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan do'a. la sudah didewakan orang.
Tags: sunda
Prev: Tri Tangtu ti Kanekes teh naon ? Ku Engkus Ruswama
Next: Sunda (Kawali)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar